Konten produk ini disediakan melalui terjemahan mesin dan mungkin tidak mencerminkan informasi sebenarnya. Mohon pertimbangkan hal ini sebelum melakukan pemesanan.
【Museum Pengalaman Kustomisasi Seluruh Kota】
Kota Zentsuji di Prefektur Kagawa adalah tempat kelahiran Kobo Daishi Kukai, seorang tokoh besar dalam dunia Buddha Jepang yang dikenal oleh semua orang Jepang. Lahir 1250 tahun yang lalu, Kukai melakukan praktik pertapaan di alam luas Shikoku, tanah kelahirannya, dan mencapai pencerahan. Lebih dari 1200 tahun setelah masa kejayaannya, hingga kini banyak peziarah yang mengagumi Kukai datang dari seluruh dunia untuk menelusuri jalur ziarah yang ditinggalkannya.
Di lima kuil di Kota Zentsuji yang terkait dengan Kukai, kami menyediakan konten pengalaman untuk mengasah panca indra dan merenungkan diri sendiri, dengan tema: Kuil Mandaraji (indra peraba), Kuil Deshaka (indra penglihatan), Kuil Koyasanji (indra pendengaran), Kuil Zentsuji (indra pengecap), dan Kuil Kanakuraji (indra penciuman).
Di pusat kota yang memiliki budaya "Osettai" (keramahan) di mana penduduk setempat menyambut para peziarah, kami menyediakan pengalaman menikmati kerajinan tradisional daerah dan masakan lokal.
Kota Zentsuji, di mana alam dan kepercayaan terasa dekat, dan kehidupan yang apa adanya tanpa hiasan dapat terlihat, benar-benar merupakan museum pengalaman seluruh kota!
Mengapa tidak merasakan Jepang yang autentik sambil menyentuh budaya yang telah dijaga dan dihangatkan oleh masyarakat sejak zaman kuno?
〇Hidangan yang dinikmati seperti bepergian, sambil menyampaikan latar belakang bahan makanan
Dengan fokus pada bahan makanan lokal Zentsuji, kami berkeliling daerah produksi, menyentuh tanah, menyentuh rumput, dan menyentuh makhluk hidup, agar cerita bahan makanan tersebut dapat tertuang dalam hidangan. Koki sendiri berkeliling kota, berbicara dengan para produsen, dan menuangkan cerita yang tercipta ke dalam piring, menyajikan hidangan yang membuat tamu merasa seolah-olah sedang bepergian.
Tema hidangan adalah "Shindo Fuji" (kesatuan tubuh dan tanah).
Dengan penuh syukur menerima berkah yang diberikan oleh tanah tempat kita tinggal, menyerapnya sepenuhnya ke dalam tubuh, dan menunaikan misi diri sendiri dengan bersumber pada kehidupan tersebut. Rasa terima kasih atas waktu hidup bahan makanan, dan waktu = kehidupan semua orang yang terlibat dari budidaya hingga memasak, diekspresikan dalam bentuk "Omotenashi" (keramahan).
Sambil merasakan pemikiran para produsen yang tanpa kompromi dan dengan tulus menghadapi alam, kami menyediakan waktu istimewa yang tidak hanya menyentuh panca indra, tetapi juga melampaui logika dan menyentuh indra keenam.